Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

renungan untuk orang tua

Standar Kemapanan Calon Mantu : Sebuah Renungan Untuk Para Orang tua June 15, 2010 at 3:38 PM Para lajang itu berkumpul tiap pekan dirumah saya untuk pengajian. Sekitar 10- 12 orang. Sebenarnya ada yang sudah menikah, dua orang. Namun belum dikarunia putra. Seperti Ahad pagi kali ini, kami masuki awal tahun yang baru. Sayapun mengelola pengajian itu sesuai dengan ‘kebutuhan’ mereka. Tidak ada paksaaan. Semua berjalan dengan santai namun serius. Nilai-nilai Islam begitu luas dan luwes untuk dijabarkan dalam menjawab persoalan-persoalan kita. Seperti pagi ini. Dengan usia sekitar 24 -26 tahun, apa yang paling diinginkan oleh para lajang yang sebagian telah memulai bekerja tetap itu? Ya, ya,,ya …menikah! Setiap kali pembahasan itu menyeruak, aku hanya bisa membesarkan hati mereka, membekali hal-hal yang mungkin mereka perlukan memulai sebuah hubungan yang halal dan syar’i. Jika harus mencarikan jodoh, sepertinya itupun agak sulit. Persoalan-persoalan sering mereka beberka...

Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat, mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat, selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa, belum bertugas kecewa dan gentar belum ada, tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam, layar merah berkibar hilang dalam kelam, kawan, mari kita putuskan kini di sini: Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri! Jadi Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan, Tembus jelajah dunia ini dan balikkan Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu, Pilih kuda yang paling liar, pacu laju, Jangan tambatkan pada siang dan malam Dan Hancurkan lagi apa yang kau perbuat, Hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Tidak minta ampun atas segala dosa, Tidak memberi pamit pada siapa saja! Jadi mari kita putuskan sekali lagi: Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi, Sekali lagi kawan, sebaris lagi: Tikamkan pedangmu hingga ke hulu Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

doa

kepada pemeluk teguh Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh cayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku aku hilang bentuk remuk Tuhanku aku mengembara di negeri asing Tuhanku di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling

derai-derai cemara

Cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam Aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini Hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah

aku lelah

Aku lelah puisi cinta bertepuk sebelah tangan karya: Rayhandi Aku lelah dengan semua ini Dengan sandiwara cinta ini Lelah pura pura baik saja Lelah menjadi tamengmu Aku lelah dengan tingkahmu Dengan cintamu yang membunuhku selalu Dengan rasa yang kusimpan hingga batu Ingin rasanya kuakhiri Aku lelah Hancur hatiku saat kulihat dengannya Ingin rasanya aku memarahimu Tapi apa daya aku bukanlah kekasihmu Aku hanya sahabat. Ku pura pura menjadi sahabatmu Tidak ingin aku kehilanganmu Aku rela menjadi sahabat  Karena kutahu  cintamu hanya untuknya bukan untukku Cintaku bertepuk sebelah tangan.

cintailah aku seperti aku mencintaimu

Cintailah aku seperti aku mencintaimu puisi cinta bertepuk sebelah tangan karya: Rayhandi Kekasih Cintailah aku Tidakkah engkau tau aku sekarat karena menanam cinta untukmu Cinta yang akan meracuniku hingga lenyap. Kekasih  Cintailah aku Seperti fajar mencintai pagi Menghangatkannya dengan sinar Dan alunan burung burung kecil. Kekasih Cintailah aku Seperti malam mencintai bintang bintang di hajat langit Seperti tulus bulan mencintai awan hitam. Kekasih Cintailah aku Dengan caramu Dengan rasa di dada Dengan sayangmu Cintailah aku seperti jasadku mencintai jasadmu Karena aku sangat ingin di cintai oleh angin sepertimu.